PRAMUKA DARING: KEGIATAN YANG KEHILANGAN RUHNYA

PRAMUKA DARING: KEGIATAN YANG KEHILANGAN RUHNYA
“Di sini senang, di sana senang, dimana-mana hatiku senang” lagu wajib yang biasa menggema ke setiap sudut sekolah kini tidak lagi terdengar. Pembelajaran Jarak Jauh memaksa Pramuka dilakukan secara daring, menyebabkan Pramuka kehilangan ruhnya.
        Pandemi covid-19 yang sudah berlangsung hampir 1 tahun memaksa kegiatan sekolah dilakukan secara daring. Tidak hanya kegiatan pembelajaran, hal ini juga berlaku bagi seluruh organisasi sekolah, termasuk Pramuka.

Pramuka Daring

        Kegiatan Pramuka SMA Negeri 1 Muntilan sedianya dilakukan secara berekelanjutan setiap tahunnya. Namun, karena pandemi covid-19 yang melanda Indonesia sejak awal Maret tahun 2020 kemarin, memaksa Pramuka vakum selama hampir 2 semester dan baru mulai dilaksakanan lagi mulai 8 Januari 2021 lalu, secara daring.

        Berbagai media dihadirkan untuk mengakomodasi keberlangsungan kegiatan ini. LMS Schoology dan GoogleMeet dimanfaatkan untuk penyampaian materi dari Dewan Ambalan kepada teman-teman Sangga dan Saka. Biasanya materi tertulis disampaikan melalui LMS Schoology, sementara GoogleMeet digunakan oleh narasumber dari luar untuk menjabarkan materi mereka.

        Peserta kegiatan Pramuka di Gudep 11-044/045 SMA Negeri 1 Muntilan rata-rata berusia antara 16 sampai 17 tahun. Dewasa ini kita menyebutnya sebagai generasi milenial. Generasi millenial dikenal lekat akan sosial media, khususnya Whatsapp dan Instagram. Hal ini kemudian menginspirasi Dewan Ambalan 42, selaku pamong keberadaan Gerakan Pramuka SMA Negeri 1 Muntilan, untuk menggunakan kedua sosial media tersebut, di samping dua media yang sebelumnya telah disebutkan. Dengan harapan akan menambah semangat peserta dalam mengikuti kegiatan Pramuka secara daring.

Kehilangan Ruh

        Di sekolah, Pramuka menjadi salah satu kegiatan ekstrakurikuler yang sangat relevan sebagai wadah penanaman nilai karakter, khususnya nilai yang diturunkan dari Dasa Dharma Pramuka. Nilai karakter yang dapat dikembangkan melalui kegiatan kepramukaan adalah sebagai berikut: religius, jujur, toleransi, disiplin, kerja keras, kreatif, mandiri, demokratis, rasa ingin tahu, semangat kebangsaan, cinta tanah air, menghargai prestasi, bersahabat/komunikatif, cinta damai, gemar membaca, peduli lingkungan, peduli sosial, dan tanggung jawab.

        Formulasi Pramuka daring sayangnya kurang bisa menanamkan berbagai karakter tersebut pada siswa. Misalnya karakter disiplin dan tanggung jawab. Sedikitnya terdapat sekitar 30 siswa tidak mengikuti kegiatan yang dilangsungkan setiap hari Jumat tersebut tanpa keterangan. Jumlah ini lima sampai enam kali lebih banyak dibandingkan dengan ketidakhadiran siswa saat Pramuka dilaksanakan secara tatap muka. Belum lagi, banyak peserta yang terlambat hadir dan terlambat pula mengumpulkan tugas-tugas kepramukaan.

        Pemberian sanksi disiplin yang lekat dengan Gerakan Pramuka pun tidak dapat diberikan. Jika biasanya setiap hari Senin selepas upacara bendera dilaksanakan, Pembina Pramuka akan memanggil siswa-siswi yang absen pada kegiatan Pramuka pada hari Jumat minggu sebelumnya kemudian memberikan sanksi, selama Pramuka daring tidak dapat terlaksana.

        Pramuka daring perlahan mengikis “ruh” Gerakan Pramuka. Untuk itu, sekolah perlu mencari alternatif pelaksanaan kegiatan Pramuka yang mendorong Eksistensi Gerakan Pramuka dalam Pendidikan. Sekolah dapat menginisiasi berbagai program yang lebih menyenangkan dengan memanfaatkan sumber daya yang ada di sekitar peserta.