
Selasa, 13 Januari 2026. - Muntilan sedang berselimut udara yang tenang saat iring-iringan keluarga besar SMA Negeri 1 Klaten tiba. Sebagai penulis yang hanya duduk di sudut ruangan, saya tidak ingin mencatat jadwal acara dari jam ke jam, atau merinci berapa banyak keuntungan yang dihasilkan oleh unit usaha. Mata saya justru tertuju pada sesuatu yang lebih halus, sesuatu yang tidak nampak, namun terasa kuat di dalam jiwa manusia.
Ada pemandangan yang sangat menyentuh hati saya hari itu. Kita semua tahu siapa SMA Negeri 1 Klaten. Sebuah nama besar yang harumnya sudah melampaui batas Jawa Tengah, sebuah sekolah yang menjadi mercusuar bagi banyak institusi pendidikan di Indonesia. Secara logika, mereka bisa saja duduk diam dan membiarkan orang lain datang bertanya.
Namun, yang saya saksikan justru sebaliknya. Kepala SMA Negeri 1 Klaten beserta jajarannya datang dengan sebuah kerendahan hati yang luar biasa. Mereka menempuh perjalanan jauh dari Klaten ke Magelang bukan untuk memamerkan kejayaan, melainkan untuk memosisikan diri sebagai "murid". Melihat sosok-sosok hebat itu duduk dengan takzim, mencatat, dan mendengarkan dengan penuh rasa ingin tahu, adalah sebuah pelajaran tentang hidup.
Mereka mengajarkan kepada kita bahwa: Menjadi yang terbaik bukan berarti berhenti belajar; justru karena mereka terus belajarlah, mereka menjadi yang terbaik. Ada jiwa besar di sana, jiwa yang merasa selalu lapar akan perbaikan, meski dunia sudah menganggap mereka sempurna.
Di sisi lain meja, saya melihat keindahan yang serupa tapi tak sama. Keluarga besar SMA Negeri 1 Muntilan menyambut tamu-tamu terhormat ini bukan sebagai saingan, melainkan sebagai saudara.
Inovasi yang mereka namakan "SMAPONG POINT" bukan sekadar unit usaha atau deretan angka di atas kertas. Lewat binar mata Kepala SMA Negeri 1 Muntilan dan timnya, saya melihat sebuah ketulusan untuk memberi. Mereka telah bersusah payah membangun sistem, memeras keringat untuk berinovasi, dan ketika keberhasilan itu sudah di tangan, mereka tidak mendekapnya sendiri.
Mereka membukanya lebar-lebar. Mereka membagikan "resep" keberhasilan itu kepada sesama pejuang pendidikan. Inilah wujud nyata dari jiwa yang ingin memberi manfaat sebesar-besarnya. Mereka sadar bahwa ilmu tidak akan berkurang karena dibagi, justru ia akan menjadi abadi sebagai amal jariyah yang mengalir.
Pertemuan hari itu bukanlah sekadar kunjungan kerja. Itu adalah sebuah simfoni kebaikan. Satu pihak menunjukkan bagaimana cara menghargai ilmu (adab belajar). Satu pihak lainnya menunjukkan bagaimana cara memuliakan tamu dan berbagi (adab memberi).
Jika saja semua pemimpin dan institusi memiliki jiwa besar seperti yang ditunjukkan oleh kedua sekolah ini, alangkah indahnya dunia pendidikan kita. Tidak ada persaingan yang saling menjatuhkan, yang ada hanyalah perlombaan dalam kebaikan.
Saya meninggalkan ruangan itu dengan satu keyakinan: SMAPONG POINT mungkin adalah sebuah nama unit usaha, namun semangat di baliknya adalah semangat untuk terus tumbuh dan memberi cahaya yang akan terus menerangi jalan banyak orang.
Terima kasih, SMA Negeri 1 Klaten.
Terima kasih, SMA Negeri 1 Muntilan.
Kalian telah mengajari kami bahwa di atas prestasi, ada pekerti yang jauh lebih tinggi.
Tertanda, Si Penulis Sunyi